Suaminya Suparjan, sorang mantan romusha di zamannya. Sekarang diumurnya yang tak lagi muda ini ia hanya bekerja untuk mencari orong-orong dan membuat keranjang bambu yang susah untuk terjual. Orang-orang sekarang tertarik untuk membeli keranjang modern yang terbuat dari plastik. Walau begitu, tetap saja ia membuat keranjang bambu dan berharap agar orang-orang tetap tertarik dengan keranjangnya. Inilah perjalanan hidup mereka berdua didalam sebuah gubuknya yang sudah lapuk. Bahkan kamar mandipun tak layak lagi untuk dipakai. Semua ini mereka jalani sebagai manusia yang tau kehidupan.
Sekarang yang jadi masalah adalah, masih banyak orang-orang yang hidup berlebih diluar sana belum mempelajari hidup yang sebenarnya. Atau kata lain bahwa mereka tidak diberikan makna hidup yang seutuhnya dari Tuhan. Orang-orang takut merasa kekurangan, bahkan takut tak makan. Taukah mereka akan dibalik itu semua?
Yang dibuktikan disini adalah jangan fikirkan bahwa Tuhan tidak akan memberimu sandang pangan, tetapi fikirkanlah bahwa suatu saat Tuhan akan memberimu kebahagiaan melalui proses perjuangan hidupmu yang sesungguhnya, seperti Mbah Sakini dan Pak Suparjan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar